.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail

Bukan Literasi Benar Menusuk Kalbu

Oleh:

Suherman

Alhamdulillah literasi akhirnya mendapatkan tempat di ruang publik dan negara pun, yang awalnya terkesan acuh tak acuh, mulai meliriknya. Bukan hanya bidang pendidikan yang mulai mengitegrasikannya kedalam kurikulum, akan tetapi bidang lain pun seperti politik (literasi poltik), finansial (litrasi finansial) , termasuk masalah sosial (biblioterapi) sedang melakukan elaborasi . Dua dasawarsa yang lalu masalah literasi kurang dipedulikan mungkin karena istilah ini belum populer (sampai saat ini kata “literasi” belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). Setelah banyak bukti bahwa budaya literasi ternyata sangat vital dalam proses pembangunan maka mulailah ramai dibahas. Dan untuk menutupi rasa bersalah ini banyak yang menyalahan budaya lisan. Budaya lisan tepatnya kelisanan (orality) dijadikan sebagai tersangkan, untung belum terdakawa, sebagai penghambat tumbuhnya budaya literasi di tanah air. Saya sendiri meragukan adanya budaya lisan ini, karena yang namanya lisan bukanlah hasil budaya akan tetapi sudah ada dari sono-nya (taken for granted). Bukan hasil dari kebudayaan manusia seperti keaksaraan atau literasi (literacy) yang diawali dari ditemukannya tulisan. Kelisanan sama seperti melihat dan mendengar bahkan mugkin juga sama seperti bersin, batuk, dan kentut semuanya berada di luar kuasa rekayasa manusia.

Dalam tulisan ini saya akan membahas hubungan antara literasi dengan masalah kekerasan. Kedua masalah ini sedang menjadi trending topic dalam pertarungan wacana di tanah air. Baik untuk pengembangan kebudayaan maupun hanya sekedar untuk keperluan branding dalam pertarungan politik yang masih jauh dari demokrasi ini.

Kekerasan ada di setiap tempat dan waktu. Sejak manusia diciptakan sampai nanti kiamat akan tetap ada. Sejarah adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan tidak mengenal suku bangsa, semua ras manusia melakukannya. Kekeran tidak mengenal status sosial, dilakukan oleh sorang raja maupaun rakyat jelata, orang kaya atau orang miskin. Dan kekeras tidak mengenal tingkat pendidikan, dilakukan oleh profesor maupun orang-orang rombengan dari bumi yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Kekerasan dilakukan oleh si pintar dan si bodoh. Kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja baik perorangan maupun secara kolektif terorganisasi bahkan oleh negara. Kekerasan bisa berbentuk ideologi, ekonomi, politik, maupun kebudayaan. Oleh karena itu kekerasan hanya bisa dihilangkan atau diminimalisasi hanya dengan antitesisnya yaitu moral.

Belakangan ini ada beberapa penelitian mengenai hubungan antara budaya literasi dengan tindakan kekerasan. Dengan sebuah asumsi atau hipotesis bahwa semakin tinggi budaya literasi di sebuah masyarakat maka akan mengurangi tindakan kekerasan pada masyarakat itu, dan sebaliknya. Misalnya ada yang meneliti hubungan ini di sekolah dasar dengan kesimpulan bahwa semakin banyak seorang siswa membaca ternyata akan mengurangi bahkan menghilangkan perilaku suka bulying. Atau kita sering menyodorkan kisah nyata dari buku atau film Freedom Writers yang menceritakan tentang keberhasilan seorang guru dalam mengelola kelas dengan murid yang super bengal malah sampai kriminal menjadi kelas yang penuh tolerasi, solidatiras, dan prestatif. Untuk menaklukan kelas itu sang guru hanya menggunakan dua senjata yaitu kisah dan buku. Satu lagi tentang Malcolm X, seorang berandalan putus sekolah yang berhasil menjadi cendkiawan—dan akhirnya menjadi seorang politisi bahkan dianggap sebagai pahlawan—di dalam penjara karena keranjingan membaca.

Dengan cerita-cerita seperti di atas lantas kita menyimpulkan bahwa budaya literasi bisa dijadikan sebagai penangkal kekerasan. Akan tetapi menurut saya belum tentu, karena dalam sejarah pun banyak cerita yang justru menjadi antagonisnya. Coba baca buku biografi Karl Marx, Stalin, Mao Zedung, dan Hitler. Para diktator tersebut adalah orang-orang yang literate atau kecanduan membaca buku, malah Marx, sang hantu komunisme inernasional ini, dijuluki sebagai bibliomania atau orang yang tergila-gila dengan buku. Akan tetapi mereka semua adalah jagal manusia dan kemanusiaan yang sangat bengis dalam sejarah peradaban. Orang-orang intlektual yang anti intelektual, dan dalam mencapai tujuan politiknya memakai cara kekerasan yang paling biadab dalam sejarah. Sama biadabnya dengan Jengis Khan yang tidak pernah baca buku. Di ujung jari mereka jutaan manusia mati dengan tragis. Dalam genggaman orang-orang pintar yang tidak bermoral kemahiran literasi justru menjadi mesin kekerasan bahkan mesin pembunuh yang paling berbahaya.

Jangan dikira bahwa orang yang banyak pengetahuannya tidak akan berbuat kekerasan, yang berbeda adalah hanya jenis kekerasannya. Kelas elit beda pendapat, kelas menengah konflik, dan orang yang rendah pengetahuannya bisanya tawuran. Orang tidak berpengethuan mencuri dengan cara merampok atau membegal dengan senjata, orang berpengetahuan mencuri dengan cara korupsi pake ballpoint. Seorang begal hanya membunuh dengan korban berjumlah hitungan jari, tapi seorang intelektual dengan buah pikirannya bisa membunuh sampai jutaan orang.

Kemahiran literasi bukanlah obat mujarab untuk mengobati penyakit masyarakat, kerawanan sosial, atau penolak bala kekerasan. Literasi hanyalah sebuah cara atau alat (tool) untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan. Literasi seperti sebuah pisau bisa digunakan untuk menyembelih ayam atau menggorok leher manusia. Oleh karena itu yang harus sangat diperhtikan adalah pesan atau isi dari bacaan. Makanya tidak hanya sekedar membaca akan tetapi harus iqro bismi robbikal lazi khalaq, membaca dengan selalu menyebut atau menyertakan nama Tuhanmu yang menciptakan. Jangan sampai melupakan eksistensi Tuhan atau demensi moral dalam kegiatan membaca.

Literasi bermakna bagaimana seseorang mahir dalam menganalisis informasi. Dari berbagai penelitian dan pendaptan para pakar ada indikasi bahwa siswa Indonesia tidak terbiasa menganalisis informasi. Fenomena hoax yang ramai sekeranga ini adalah cermin bahwa masyarakat Indonesia belum bisa membedakan mana informasi yang yang benar dan yang palsu sehingga mudah ditipu atau diperdaya. Oleh karena itu untuk mengeliminasi informasi hoax pemerintah tidak usah repot mengawasi media sosial dan melarang banyak situs. Jadikan saja masyarakat indonesia menjadi masyarakat yang literate atau pandai menganalisis informasi melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Manusia adalah apa yang dia baca atau pikirkan. Oleh karena itu sangat berbahaya apabila tidak hati-hati dalam menerima informasi. Harus ada tabayun (analisis informasi) karena dari informasi yang diterima inilah sebuah keputusan atau kebijakan akan diambil. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada orang fasik membawa suatu berita (informasi), maka periksalah dengan teliti (tabayun = analisis informasi ) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum (audiens) tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (al-Hujurat: 6).

Untuk membuat analisis informasi yang benar memerlukan metode tersendiri yang harus memperhatikan berbagai variabel. Misalnya yang paling sederhana adalah formulasi komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Laswell: who, say what, to whom, what chanel, and with what effect. Bila dirinci bisa menghasilkan satu variabel satu judul buku. Siapa (komunikator), berkata apa (pesan), kepada siapa (khalayak), menggunakan media apa, dan kira-kira apa yang dinginkan komunikator (efek).

Apabila kita membaca buku pernahkah kita menganalsis secara detil tentang penulisnya. Atau dalam sebuah karya ilmiah pernahkan sumber rujukannya dipermasalhkan identitas, kapabilitas, dan integritasnya. Biasanya dalam sebuah karya ilmiah yang penting disebutkan sumber rujukannya tidak peduli dengan keberadaan pengaragangnya. Ada seorang teman yang psikolog bahkan mengaku psikolog muslim yang mengagumi teori psikoanalisis dan merasa bangga bila mengutip nama Sigmund Freud yang membuat teorinya. Dia tidak pernah tahu siapa sebenarnya Freud ini. Ternyata menurut Zilboorg, sepanjang hidupnya Freud dihantui oleh death anxiety, pesimisme, dan memiliki sikap penyedih yang mencerminkan depressive neurosis. Lha, dengan demikian banyak ahli ilmu jiwa belajar dari orang yang sakit jiwa. Apakah ini tidak lebih gila dari orang gila? Bandingkan misalnya dengan proses penentuan kebenaran atau keotentikan sebuah hadits. Penyampainya (perawi) harus dinilai secara ketat identitas, kapabilitas dan integritasnya. Kalau ada caca moral sedikit saja maka tidak akan diterima. Jangankan menipu orang, menipu binatang saja pendapatnya tidang dipercaya.

Kata Bung Hatta buku akan membentuk karakter bangsa. Oleh karenanya menentukan buku apa yang akan dibaca sangatlah penting. Pesan yang tertulis dalam sebuah buku tidaklah bebas nilai, pasti bermuatan idelogi dari penulisnya. Melakukan akuisisi bahan pustaka pada era liberal seperti sekarang ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Semua pengarang baik yang bermolah maupun tidak bebas mengekspresikan pendapatnya melalui buku. Apalagi orientasi negara yang semakin kapitalis sangat mempangaruhi pasar yang tidak lagi memperhatikan dimensi moral, pertimbangannya hanya profit bukan lagi “profet.” Misalnya sekarang ini masyarakat sangat mudah untuk membaca atau membeli buku-buku sastra selangkangan atau sastra lendir. Malah buku-buku tersebut menjadi best-seller nasional padahal buku-buku tersebut secara tidak langsung akan memicu terjadi seks bebas dan kekerasan seksual. Menurut para ahli neurologi, fornografi akan merusak syaraf dan jauh lebih berbahaya dari pada narkoba. Pantas bila Imam Asyafi’i berkata “ hari ini setengah hafalanku hilang karena melihat aurat.” Padahal yang dilihat hanya betis perempuan bukan alat vital. Buku-buku berbau fornogarafi tidak ada manfaatnya sedikit pun bagi kehidupan malah buku sastra jahiliyah semacam itu akan menimbulkan pembusukan kebudayaan. Tapi tidak ada tindakan apa-apa dari negara, sangat beda dengan penangan kasus narkoba atau teroris, sekali lagi padahalan dampaknya sama-sama bebahaya terutama bagi genrasi muda.

Knowledge is power kata Francis Bacon, pengetahuan adalah kekautan atau kekuasaan. Kata-ka kata populer yang meliki makna yang hampir sama ducapakan oleh Rene Descarte cogito ergo sum ( aku berpikir maka aku ada). Atau yan paling eksplisit adalah pepatah Latin lego ergo scio (aku membaca maka aku tahu) Jauh sebelum Bacon dan Descartes, Nabi Muhammad bersabda apabila ingin mengusasi dunia dan akherat maka kuasailah ilmu, oleh karena itu mencari ilmu wajib hukumnya. Bahkan Firman pertama yang diturunkan adalah ayat literasi, perintah membaca, maka membaca pun sebuah perintah yang mestinya wajib hukumnya. orang yang banyak pengetahuannya akan menjadi orang kuat atau berkuasa tentsu saja secara intlektual bukan secara fisik. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan mereka yang beroleh ilmu pengetahuan (Al-Mujadalah 11). Derajat seseorang sebanding dengan kedalam ilmu yang ada dalam dirinya. Apabila seseorang hanya mempelajari aspek teknis maka ia akan menjadi seorang teknisi; apabila yang dimiliki banyak informasi maka ia akan menjadi seorang manajer; apabila informasi itu diolah menjadi pengetahuan maka ia akan menjadi seorang pemimpin, dan apabila kedalaman pengetahuan yang dimilikanya mencapai kebenaran filosifis atau hikmah maka ia akan menjadi seorang master (guru) atau begawan. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling “gampang’ dan populer adalah dengan membaca buku.

Baik sabda Nabi maupun ucapan Bacon ternyata terbukti kebenaranya di dalam sejarah peradaban manusia, baik dalam taraf individu maupun skala negara. Coba kita perhatikan, bangsa yang maju secara teknologi adalah bangsa yang budaya literasinya tinggi. Sebaliknya, bangsa yang budaya literasinya rendah akan tertinggal. Akan tetapi bagaimana dengan Yunani yang bebrapa tahun yang lalu nyaris saja mengalami kebangkrutan? Padahal Yunani adalah sebuah negara tempat dilahrikannya banyak filosof dunia. Malah Yunani sempat menjadi pusat peradaban dunia. Menurut saya hal itu terjadi karena orientasi literasi Yunani kepada humaniora bukan teknologi. Filsafat berkembang akan tetapi teknologi atau ilmu praktis material ditinggalkan. Sedangkan negara-negara seperti Amerika, Jerman, Jepang, dan China adalah mereka yang mengembangkan ilmu rekasaya material. Bahkan sempat ramai bahwa Jepang akan menghapus ilmu-ilmu humaniora dari pendidikan tingginya karena dianggap tidak berguna dalam kemajuan pembangunan. Dari kasus ini sekali lagi kita melihat bahwa bukan masalah budaya literasi semata yang menjadi pendorong kemajuan akan tetapi isi atau pesan dari materi bacaan itu sangatlah menentukan.

 
E-mail

Babad Padjadjaran Menjadi

Memory of the World ?

 

Setelah Negara Kertagama, La Galigo, dan Babad Diponegoro resmi terdaftar di Memory  of the World (MOW), rasanya sudah  saatnya Babad Padjadjaran menyusul  menjadi nominasi berikutnya.  Bukan karena tuturut munding (ikut-ikutan) akan tetapi warisan budaya literatur asal Jawa Barat ini  adalah kekayaan khazanah budaya nasional yang sangat pantas untuk diketahui  warga dunia.

MOW adalah salah satu program dari UNESCO yang didirikan pada tahun 1992. Program ini  bertujuan untuk melakukan preservasi warisan literasi dunia yang rusak akibat perang atau pergolakan sosial dan melindungi naskah dari pencurian atau penjarahan. Filosofi dari program ini adalah dokumen (warisan literasi) dunia merupakan milik semua dan harus dapat diakses oleh semua.  MOW  membantu akses universal  ke documentary heritage dan juga turut meningkatkan kesadaran dunia tentang keberadaan dan signifikansi documentary heritage.

Ada beberapa hal yang melatari kepantasan Babad Padjadjaran menjadi MOW  tersebut. Pertama, secara substantif Babad Padjadjaran bercerita tentang Kerajaan Padjadjaran yang merupakan kerajaan terbesar di Tatar Sunda. Kedua, Babad Padjadjaran memiliki naskah yang lengkap sehingga secara administratif akan memudahkan pendaftarannya  menjadi MOW. Ketiga,  ini adalah salah satu langkah strategis untuk ngamumule (revivalisasi dan revitalisasi) nilai-nilai luhur  atau kearifan  budaya  Ki Sunda.

Upaya ngamumule sudah lama dilakukan oleh para inohong (tokoh) dengan berbagai pendekatan di antaranya: pertama, pendekatan institusional  misalnya dengan didirikannya Puseur Budaya Sunda dan  Pusat Studi Sunda. Kedua, pendekatan konsitutusional yaitu dengan peraturan daerah atau peraturan kepala daerah tentang berpakaian adat Sunda di hari-hari tertentu atau acara-acara tertentu serta Bahasa Sunda dimasukkan kedalam kurikulum sekolah. Ketiga, pendekatan kultural yang dilakukan dengan cara mengadakan berbagai macam kegiatan misalnya, pasang giri, lomba membaca pupuh, dan lain-lain.

Gerakatan ngamumule melalui MOW adalah juga  bisa menjadikan upaya untuk menghadang budaya bangsa deungeun (Barat dan Utara) yang telah lama meminggirkan bahkan mengubur  sebagian budaya adiluhung Sunda sehingga jati diri bangsa juga ikut hancur (jati kasulih ku junti). Diam-diam banyak masyarakat yang merindukan untuk berjumpa kembali  dengan kearifan lokal  Ki Sunda. Sebagai contoh, anjuran dari pemerintah daerah untuk mengenakan  pakaian khas Sunda (teruma totopong/iket dan pangsi)  disambut antusias oleh masyarakat.


Padjadjaran Center

Tentu saja upaya ngamumule tidak hanya cukup dengan mendaftarkan  menjadi MOW saja.  UNESCO hanya memfasilitasi  pelestarian saja sedangkan  supaya babad ini memiliki nilai tambah, itu sangat tergantung kepada kita semua. Untuk itulah maka  langkah berikutnya adalah  bagaimana babad ini bisa dioptimalisasi atau dikapitalisasi sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh semua orang.  Dalam hal ini penulis megusulkan didirikannya Padjadjaran Center (Puseur Padjadjaran).

Padjadjaran Center dibuat untuk tujuan merekonstruksi  Kerajaan Padjadjaran terutama dalam perspektif literasi. Tentu saja alangkah akan lebih baik apabila bisa direkonstruksi  secara arsitektural dalam bentuk maket atau diorama misalnya.

Ada  beberapa keuntungan apabila pendirian Padjadjaran Center ini bisa terlaksana, di antaranya: Pertama, Padjadjaran Center akan menjadi landmark baru Jawa Barat  sehingga Jawa Barat akan semakin dikenal di tingkat nasional, regional, dan bahkan di mata dunia. Kedua, Jawa Barat menjadi destinasi wisata literasi internasional, bukan hanya terkenal dengan keindahan alam dan kulinernya tetapi juga  memiliki adikarya berupa documentary heritage.  Para wisatawan dapat mengenal kearifan lokal Jawa Barat dari segi sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Ketiga, menjadi inspirasi budaya dan ekonomi kreatif sehinga akan menciptakan  lapangan kerja baru terutama dalam sektor industri kreatif,  jasa, dan hiburan. Misalnya,  apabila Padjadjaran Center ini sudah menjadi destinasi wisata literasi maka semua yang bersangkutan dengan budaya Sunda  dapat dikapitalisasi, mulai dari pembuatan merchandise, kuliner, fashion, kursus  bahasa Sunda singkat untuk turis mancanegara, dan lain-lain sampai pementasan seni (termasuk drama dan film)  kolosal yang bertemakan Kerajaan Padjadjaran. Keempat,  Jawa Barat, dalam hal ini Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (BAPUSIPDA)  akan  menjadi model  untuk Indonesia bahkan untuk dunia bagaimana cara melakukan optimalisasi dan kapitalisasi literasi warisan budaya. Kelima, secara tidak langsung  masyarakat disadarkan tentang pentingnya membaca dan arsip dalam kehidupan.

Tentu saja perlu dukungan dan urun rembuk dari banyak pihak untuk mewujudkan cita-cita di atas. Dukungan moral dari para inohong, dukungan konseptual dari para akademisi, dan dukungan finansial dari para pengusaha sukses dan pemerintah daerah. Juga yang paling penting adalah adanya political will dari Gubernur Provinsi Jawa Barat.

Secara teknis perlu beberapa langkah untuk memajukan Babad Padjadjaran menjadi MOW, namun sebelum langkah adminsitratif  ditempuh yang sangat penting adalah diadakannya musyawarah dari para pemangku kepentingan (inohong, akademisi, pengusaha, dan pemerintah) untuk menguji kelayakan babad (Suherman)


Last Updated on Tuesday, 31 January 2017 13:32
 
E-mail

Tradisi Literasi Diponegoro

Setelah menunggu lima tahun, UNESCO akhirnya pada tanggal 20 Juni 2013 memberi pengakuan International Memory of the World (MOW) Register untuk naskah Babad Diponegoro. Naskah ini merupakan   otobiografi atau perjalanan hidup Pangeran Diponegoro yang ditulis selama masa pengasinggannya di Manado, Sulawesi Utara, Mei 1831 hingga Februari 1832 (Kompas, 21 Juni 2013).

Babad Diponegoro menjadi naskah utama penulisan biografi Diponegoro oleh Peter Carey dengan judul Power of Prohecy yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi Kuasa Ramalan (diterbitan oleh KPG tahun 2012). Dari karya Carey inilah saya dapat mengetahui sosok Sang Pangeran.

Sebagai bangsa Indonesia,  kita patut berterima kasih dan memberikan penghargaan kepada Peter Carey atas kesabaran dan keuletannya  selama 40 tahun mendalami sosok Diponegoro. Satu lagi karya bergengsi tentang pahlawan besar nasional yang ditulis oleh orang asing. Sebelumnya telah terbit juga misalnya Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik karya Harry A. Poeze, seorang sejarawan Belanda, yang juga mendalami Tan Malak selama lebih dari 40 tahun. Bisakah kita, bangsa Indonesia, memilki keuletan sebagaimana Carey dan Poeze? Soekaro Penyambung Lidah Rakyat oleh Cindy Adam  dan Soekarno oleh Bernard Dahm. Biografi Gus Dur ditulisa oleh Greg Barton.   Rasanya malu juga mengenal para  pahlawan dan orang besar bangsa sendiri dari bangsa lain

Dari hasil membaca Kuasa Ramalan,  ada sisi kehidupan Sang Pangeran yang menarik perhatian saya sebagai seorang pustakawan yaitu kebiasaan membacanya. Ternyata Diponegoro adalah seorang otodidak dan kutu buku yang memiliki kegemaran mempelajari sejarah.  Apa yang saya tulis dalam buku saya, Mereka Besar Karena Membaca ( Bandung: Literate Publishing, 2012), “pahlawan tanpa tanda jasa mungkin saja ada, tapi pahlawan tanpa tanda baca akan sulit mencari figurnya dalam sejarah”,  mendapat bukti baru dari buku Kuasa Ramalan ini.

Diponegoro sangat bersemangat mempelajari, dengan cara membaca,  kerajaan-kerajaan yang pernah jaya di nusantara terutama sangat mengagumi sosok  Sultan Agung Raja Mataram yang dianggapnya berhasil dalam memadukan antara alam dunia dan akherat.  Kegemaran lainnya adalah membaca tentang mitologi terutama tentang pewayangan yang juga menjadi rujukan etika dan etiket kehidupan penduduk pada zamannya. Tidak ketinggalan, dia juga mempelajari dengan serius legenda Ratu Laut Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul, tokoh legenda yang sangat populer di kalangan masyarakat penghuni Pulau Jawa dan Bali. Legenda mengenai penguasa mistik pantai selatan mencapai tingkat tertinggi pada keyakinan yang dikenal di kalangan penguasa kraton dinasti Mataram Islam (Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) bahwa penguasa pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul, merupakan "istri spiritual" bagi raja-raja di kedua kraton tersebut.

Semua informasi,  baik mitos, legenda,  maupun ilmu pengetahuan dan fakta sejarah, diramu oleh Sang Pangeran menjadi justifikasi terhadap peran yang akan diembannya dikemudian hari—sesuai dengan ramalan yang telah dibuat oleh dirinya sendiri—sebagai raja Jawa.

Menurut Carey, dibanding dengan perkembangan sebagian besar anak-anak keluarga bangsawan Jawa pada masa itu, pertumbuhan intelektual dan spiritual Diponegro bisa dikatan sangat luar biasa pesatnya. Dia adalah seorang otodidak yang bersemangat. Tidak pernah mengalami pendidikan formal seperti di bangku sekolah. Dia belajar berbagai macam keilmuan dari ulama yang pernah datang ke Yogyakarta.  Diponegoro memperdalam beragam keilmuan dengan cara membaca berbagai ragam sumber bacaan. Di antara kesastraan Islam yang disukainya terdapat Kitab Tuhfah, yang berisi falsafah sufi tentang ajaran “martabat tujuh” yang sangat disukai oleh orang Jawa tatkala merenungkan Allah, dunia, dan kedudukan manusia di dalamnya.

Diponegoro juga sangat akrab dengan karya-karya teologi dan mistik Islam seperti ‘usul dan tasawuf, sebagaimana halnya dengan puisi-puisi mistik Jawa seperti suluk. Sejarah nabi-nabi dan tafsir Alquran. Karya-karya berisi ajaran keteladanan di bidang filsafat politik Islam seperti Sirat as-salatin dan Taj- as-salatin. Malah yang terakhir ia mewajibkan kepada adiknya supaya dibaca ketika ia sedang menyelesaikan pendidikannya di keraton.  Bidang lain yang mendapat perhatian khusunya adalah hukum amaliah atau fikih Islam: Taqrib, Lubab al-fiqh, Muharrar, dan Taqarrub (tafsir Taqrib) semua kitab tersebut sangat dikenalnya, dan dengan rasa bangga ia selalu menyebut kitab-kitab koleksi pribadinya yaitu  kitab tentang fikih Islam-Jawa yang dirawat oleh seorang sahabtnya di Yogyakarta selama berkecamuknya Perang Jawa.

Selain naskah-naskah Islam-Jawa, Dipenogoro juga mempelajari karya-karya kesastraan Jawa yang sifatnya lebih moralis. Di dalamnya termasuk cerita-certia adiluhung tentang hal-ihwal kerjaan dan kenegaraan hasil saduran kisah-kisah klasik Persia dan Arab seperti Fatah al-Muluk (Kejayaan Para Raja), Hakik al-Modin, dan Nasihat al-Muluk (Nasihat bagi Raja), juga kisah-kisah klasik  Jawa Kuno versi  Jawa Baru seperti Serat Rama, Bhoma Kawya, Arjunawijaya, Arjunawiwaha, dan dia juga  akrab dengan kisah-kisah wayang Jawa Baru.

Diponegro juga pernah minta kepada pemerintah kolonialagar disalinkan keseluruhan naskah-naskah wayang purwa hingga ke Bratayuda. Naskah lain yang diminta oleh Diponegro pada masa pengasingannya di Makassar mencakup kisah-kisah kepahlawanan Islam terkenal, Menak Amir Hamza, Asmoro Supi, suatu kisa percintaan yang berkaitan dengan cerita-cerita Menak, Serat Manikmoyo, suatu naskah tentang kosmologi atau kisah asal-usul alam semesta yang berasal dari kurun mistik Islam di Kartasura yang berkaitan dengan dongeng-dongeng pertanian dan tradisi wayang, Serat Gondokusumo (Angling Driyo) dan Serat Angreni, satu bagian dalam cerita Panji.

Satu salinan kisah romantis Jawa populer, Joyo Lengkoro Wulang, yang ditulis dalam kulit kayu ditemukan di markas Diponegoro di Selarong, termasuk koleksi pribadinya. Naskah tersebut berisi tentang aneka ragam seni kenegarawanan dalam bentuk cerita tentang seorang pangeran muda yang berkelana ke seluruh Pulau Jawa dan bertemu dengan banyak guru di banyak bidang kehidupan yang sekolah, yang agamis, dan yang sarat mistik. Inilah jenis kisah yang punya daya tarik menyeluruh di kalangan pembesar keraton masa itu yang mencerminkan pendidikan ideal bagi para satria muda.

Itulah salah satu warisan penting dari Pangeran Diponegoro, dan juga semua pahlawan Indonesia, yaitu spirit  membacanya. Sesungguhnya spirit membaca inilah warisan para pahlawan yang sering terlupakan dan hampir tidak terwarisi kepada rakyat Indonesia hingga sekarang ini. Padahal, apa arti seorang Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan pahlawan lainnya, tanpa buku, tanpa membaca? Mungkin dapat pula dikatakan bahwa Indonesia merdeka berkat jasa para kutu buku, tentu saja bersama rakyat. (Suherman; This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

Last Updated on Monday, 30 January 2017 20:46
 
E-mail

Literasi Di Balik Jeruji  Besi

“Penjara adalah universitas terbaik di dunia ini” kata Malcolm X. Dia berkata seperti itu karena tidak pernah memasuki bangku kuliah bahkan sekolah SMP pun tidak tamat. Satu-satunya tempat ia belajar untuk menjadi seorang intelektual adalah penjara. Selama 10 tahun dia hidup di penjara dan selama itu pula ia bergulat setiap hari dengan buku (otodidak). Selama di dalam penjara dia berhasil mentransformasi diri atau melakukan revolusi mental—dengan  menanamkan tradisi literasi (membaca)—dari  seorang bajingan menjadi seorang intelektual bahkan dianggap sebagai pahlawan.

Dari sejarah para pahlawan nasional kita juga dapat belajar bahwa penjara merupakan salah satu tempat untuk menempa diri  secara literasi. Tanpa dibui ungkin tidak akan lahir Indonesia Menggugat dari Bung Karno dan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Tanpa di buang ke Pulau Buru mungkin tidak akan lahir  tetralogi : Bumi Manusia, Jelek Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca karya Pramoedya  Ananata Toer, dan karya Pulau Buru lainnya. Kalau tidak diasingkan ke Tanah Merah (Digul)   mungkin tidak akaan terbit Alam Pikiran Yunani karya Bung Hatta yang kelak dijadikan mahar untuk menyunting Ibu Rahmi. Bahkan Soekarno sendiri mengakui bahwa dia mengenal lebih jauh tentang  Agama Islam dengan cara banyak membaca waktu beliau dipenjara.  Dan banyak lagi karya intlektual dari penjara.

Dilandasi oleh cerita tersebut di atas maka saya bermimpi apabali suatu hari bisa menyambangi penjara untuk malakukan penyadaran tentang pentingnya membaca di kalangan para napi.  Dan mimpi saya ini menjadi kenyataan. Pada tahun 2012 saya bekerja sama dengan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Ciamis Jawa Barat mengadakan kegiatan safari budaya baca ke berbagai segmen masyarakat, salah satunya ke penjara. Melalui kegiatan ini diharapkan minat membaca bisa tumbuh di kalangan para napi. Dan apabila sudah tumbuh maka kehidupan di napi akan diisi dengan  kegiatan membaca tentang berbagai bidang yang mereka sukai.  Dari kegiatan membaca ini kelak akan merubah pola pikir dan akihirnya bisa mengubah karakter mereka. Kelak setelah keluar  dari penjara mereka menjadi manusia baru yang siap untuk beradapatsi kembali dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Lebih jauh lagi kami berharap para alumni penjara ini akan  menjadi “Malcolm X” yang lain yang bisa mengubah dunia, ya paling tidak dunianya sendiri.

Dari berbagai cerita ternyata bermacam-macam cara terpidana dalam mengisi hidup di dalam penjara. Ada yang mengasah keahlian kriminalnya dengan berguru kepada napi lain yang lebih ahli. Sehingga  sering terdengar perkataan masuk penjara sebagai penjahat kelas teri dan keluar  menjadi penjahat kelas kakap. Penjara menjadi “sekolah” untuk menaikan kelas atau status kekriminalannya. Tetapi ada juga yang mamanfaatkan penjara sebagai tempat istirahat yang paling sempurna karena tanpa banyak diganggu, sehingga  dalam masa hukuman banyak diisi dengan kegaitan ibadah dan renungan.  Dan yang paling menarik adalah yang dilakukan para politisi. Mereka menjadikan penjara sebagai “kawah candradimuka “ yang mesti dilalui untuk kemudian menjadi orang besar atau pahlawan.

Penjara bukan hanya sebagai lembaga pemasyarakatan atau pembinaan akan tetapi bisa menjadi lembaga pendidikan  yang efektif untuk akselerasi pemembentukan  karakter manusia berbasis literasi. Situasi dan kondisi di penjara sangat mendukung untuk melakukan kontrol yang ketat terhadap proses pendidikan para napi. Para napi sangat mungkin untuk fokus karena faktor pengalih perhatian (nonton, kongkow, dan lain-lain kegiatan yang hanya membuang wakatu) yang terbatas bahkan tidak ada, sedangkan waktu yang tersedia cukup luang.


Di mana-mana penjara melebihi kapasitas, di masa depan semoga tidak semakin panjang  antrian ini. Beragam motif mereka berbuat kriminal. Saya mengimpian penjara menjadi semacam lembaga pendidikan istimewa untuk mendidik manusia yang tangguh. Dengan berbekal keberanian dan kenekatan yang telah mereka memiliki tinggal diarahkan ke perilaku yang positif.

Bertahan menggelosot di atas tegel tanpa alas, dari pagi hingga siang hari mereka bertahan.  Yang dijalankan di lembaga pemasyarakatan terkadang terapi efek jera bukan penyadaran. Sebenarnya mereka bisa diterapi dan direhabilitasi dengan metode literasi yang disebut dengan bibliotheraphy yang dapat menumbuhkan sebuah kesadaran bahwa yang meraka lakukan selama ini hakikatnya hanya merugikan diri sendiri dan orang lain. Tidak ada cara lain untuk meraih kemulian hidup selain dengan  pengetahuan yang salah satu instrumen utamanya adalah membaca.

Duh, Gusti! Anak-anak seusia mereka semestinya tidak dihabiskan di dalam penjara.  Ini terjadi karena mereka tuna-literasi  dan tuna-perhatian orang tua. Hidup mereka  tidak terarah yang akhirnya mereka menjadi “anak-anak zaman”  yang semakin buas menerkam mangsa.

Dengan sentuhan yang mampu membuaka kesadaran, pola pikir,  dan paradigma sebernarnya mereka siap utnuk berubah. Testimoni dari seorang napi, sambil bercucuran air mata berjanji akan menjadi ustadz bila kelaur dari penjara.

Seanadainya di setiap penjara ada buku mungkin mereka akan menjadi “para penghuni penjara yang mengubah dunia.” Mereka bisa “ngapak dunya lantaran maca (keliling dunia karena membaca—bhs. Sunda)” Tidak tersiksa di dalam sempitnya ruang penjara.

 

Suherman; This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Last Updated on Wednesday, 18 January 2017 15:36
 
E-mail

Kutukan Literasi


Sejak Indonesia merdeka sampai hari ini rasanya belum pernah ada rezim atau pemerintah yang menjadikan pembangunan budaya literasi sebagai prioritas pembangunan. Entah lupa atau memang disengaja para pemimpin bangsa seperti menyepelekan atau abai terhadap pembangunan budaya literasi ini. Seolah mereka semua buta dan tuli serta mati rasa bahwa mereka bisa menjadi manusia terpelajar seperti itu karena tradisi literasi yang sudah melekat dan mendarah daging dalam diri mereka. Kita sudah capek membaca dari sejarah yang banyak memberikan bukti bahwa budaya literasi adalah fondasi kemajuan bangsa. Peradaban atau bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki budaya literasi yang bagus. Tanpa membangun budaya literasi sampai kapan pun Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang maju. Menyepelekan pembangunan budaya literasi akan sangat fatal untuk generasi yang akan datang.

Mari kita menengok “aib lierasi” untuk bercermin supaya tidak terulang di masa depan. Akibat dari ketelodoran para pemimpin bangsa dalam membangun budaya literasi, maka bangsa Indonesia tidak pernah beranjak dari kubangan permasalahan elementernya. Juga hampir semua aspek kehidupan strategis bangsa kini mengidap masalah yang seolah-olah tidak kunjung menemukan solusi, bahkan semakin akut.

Dalam bidang pendidikan, sejak proklamasi sampai hari ini sudah lebih dari 10 kali berganti kurikulum, tetapi dunia pendidikan bermasalah terus-menerus. Hal ini terajdi disebabkan karena pendidikan tidak berbasis pada literasi. Kualitas pendidikan Indonesia tetap ada dalam urutan bawah. Ataukah mungkin dijadikan seperti itu supaya ada ketergantungan terus terhadap negara-negara Barat? Sebagaimana kita semua mengetahui bahwa ketergantungan adalah bentuk lain dari soft colonialism. Dunia pendidikan masih belum memiliki orientasi yang jelas, mau kemana dan mau dijadikan seperti apa manusia Indonesia. Cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang ingin memerdekakan manusia atau memanusiakan manusia, semakin hari malah semakin jauh panggang dari api. Kini lembaga-lembaga pendidikan sudah menjelma menjadi monster industri yang tujuan utamanya adalah meraup keuntungan finansial sebesar-besarnya. Muatan kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan SDM untuk memenuhi pesanan dari industri. Yang dijadikan kiblat pembangunan pendidikan Indonesia adalah negara-negara, yang secara takhayul, dianggap negara maju karena terlihat dari limpahan materi—walaupun sesungguhnya depisit kebahagiaan bahkan depisit nilai-nialai kemanusiaan.

Pendidikan dijadikan sebagai komoditas industri yang paling menguntungkan disepanjang zaman. Manusia seperti sengaja tidak dijadikan menjadi manusia pembelajar yang meredeka. Akan tetapi dijadikan semacam kencanduan terhadap industri pendidikan. Pendidikan menjadi candu bagi manyarakat, semakin ketergantungan terhadap lembaga-lembaga pendidikan semakin bagus karena itu adalah tujuan dari industrialisasi pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan sudah berubah menjadi lembaga-lembaga bisnis yang orienatasinya sudah jelas yaitu rente atau profit bukan profetik. Pembangunan budaya literasi yang akan menjadikan manusia menjadi pembelajar yang mandiri sepanjang hayat jelas akan menjadi ancaman bagi industri pendidikan. Oleh karena itu, pembangunan budaya literasi harus dijauhkan dari dunia pendidikan. Melalui strategi kebudayaan yang sangat halus, tanpa disadari kita terperangkap oleh tipu daya ini

Dalam bidang politik, negara solah-olah sedang menjalankan pituah dari Hitler yang mengatakan bahwa “bahagialah penguasa yang memiliki rakyat bodoh.” Karena bagi seorang diktator atau pemimpin yang haus kekuasaan, rakyat yang literate (well educated) adalah ancaman bagi hegemoninya. Oleh karena itu melanggengkan kebodohan rakyat adalah sebuah keniscayaan. Sisitem demokrasi yang kini dianut negara hanya sebuah takhayul yang sangat manipulatif. Tanpa budaya literasi, demokrasi dimanipulasi menjadi hanya semacam bursa atau pasar tempat jual-beli suara rakyat dengan bebas. Siapa yang memiki banyak uang dan juga tampang semakian memiliki peluang untuk menang dalam perebutan kekuasaan. Selain dengan uang, rakyat juga ditipu dengan pencintraan yang membodohkan. Dengan kemasan media, rakyat tidak bisa lagi membedakan mana tahi dan mana roti. Mohammad Hatta, sang negarawan sejati, sudah mengingatkan sejak awal bahwa menerapkan sistem demokrasi di tengah masyarakat yang belum memiliki budaya literasi maka hanya akan menciptakan “demokrasi-demokrasian” alias demokrasi palsu atau demokrasi haram jadah.

Begitu pun yang terjadi dalam bidang ekonomi. Krisis ekonomi yang sudah beberapa kali terulang adalah akibat dari rentannya sumber daya manusia terhadap perubahan. Indonesia masih mengandalkan pembangunan ekonomi pada sumber daya alam bukan pada kekuatan sumber daya manusia. Kita belum melaksanakan apa yang disebut dengan ekonomi berbasisi pengetahuan (knowledge based economy). Dengan diberlakukannya pasar bebas baik di tingkat regional ataupun global banyak kalangan yang mengkhawatirkan mengingat sumber daya manusia Indonesia yang belum siap bersaing dengan negara lain. Alih-laih menjadi peluang malah menjadi ancaman, Indonesia hanya akan menjadi pasar yang potensial bagi produk asing. Itu semua karena masyarakat kita belum menjadikan pengetahuan atau informasi sebagai kekuatan untuk mendukung ekonomi. Intinya kembali lagi bahwa budaya literasi masyarakat masih lemah.

Program Trisakti Soekarno sampai hari ini belum terwujud malah berubah menjadi “tripetaka.” Mudah-mudahan nasib yang sama tidak dialami oleh program Nawa Cita-nya Jokowi yang mungkin akan menjadi “Nawa Duka apabila budaya literasi tidak dibangun terlebih dahulu di negeri ini.

Menolak Kutukan

Di tengah kebebalan negara dan ketidakseriusan pemerintah dalam membangun budaya literasi, untung saja Indonesia memiliki sebagian masyarakat yang kreatif dan berjiwa besar. Tanpa komando dari negara, yang jarang sekali hadir dalam kegiatan literasi, masyarakat dari Sabang sampai Merauke bergerak sendiri membangun tradisi literasi informasi bangsa, maka tejadilah riak-riak literasi informasi di seantero negeri untuk menolak kutukan literasi.

Dengan dilandasi keinginan untuk menolong sesama, dengan cara dan kreativitasnya sendiri, banyak masyarakat berinisiatif membangun budaya literasi. Terkadang terasa sangat ironis, kesadaran pentingnya budaya literasi bagi kemajuan bangsa ini, bukan muncul atau diinisiasi oleh negara dan juga dari para sarjana lulusan perguruan tinggi. Akan tetapi, api pijar litersi ini justru lebih banyak dipelopori oleh orang biasa yang luar biasa, seperti dari pedagang jamu gendong yang tidak tamat SD, tukang tahu keliling, tukang gorden, dan lain-lain profesi arus bawah yang jarang dianggap penting oleh negara. Bahkan belakangan ini jagat literasi diramaikan dengan munculnya “kuda pustaka” dan “domba pustaka”. Ini adalah 100 persen kreativitas dari masyarakat bawah yang berhasil mensiasati serba kekurangan fasilitas atau infrastruktur. Mereka menggunakan kuda dan domba untuk dijdikan perpustakaan keliling. Mereka bekerja tanpa sorotan media, tanpa gunting pita, bahkan tidak ada seorang pun pejabatan yang mengetahuinya. Mereka hanya disaksikan oleh Tuhan dan tanah ari tempat mereka berpijak untuk berkarya dan turut serta dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa” . Mereka bekerja tanpa mengetahui adanya Undang-Undang No. 43 tahun 2007 Tentang Perpustakaan, mereka tidak pernah membaca Peraturan, apalagi Juklak dan Juknis dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Mereka hanya percaya bahwa semua kegiatannya akan dicatat oleh malaikat yang tidak akan salah. Mereka tidak bekerja sebagaimana kebanyakan para pejabat fungsional yang bekerja semata untuk mengumpulkan angka kredit, yang terkadang manipulatif, hanya untuk mendaptkan dan meningkatkan tunjangan fungsional.

Celah Sejarah

Nah, dihadapan kita saat ini ada sebuh celah sejarah berupa pembangunan budaya literasi melalui gerakan literasi sekolah (GLS) yang digagas oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Akan tetapi, tentu saja peluang ini juga disertai oleh berbagai tantangan. Kalau kita ingin merebut masa depan, dan memang kita harus merebutnya, tantangan-tantangan yang disebutkan di atas harus kita sama-sama cermati. Yang pasti, kita harus bekerja keras, lebih terencana, lebih tepat, dan lebih efisien.

Hari ini para aktivis literasi masih banyak yang mengalami elegi yang berkepanjangan. Sudah waktunya kita mengubah elegi ini menjadi epos yang melegenda. Persoalan-persoalan seperti dibahas di atas merupakan sebuah tantangan sekaligus menjadi celah sejarah untuk kita isi supaya sejarah republik ini juga memiliki narasi dari aktivis literasi. Celah itu adalah bagaimana kita dapat menggiring riak menjadi gelombang literasi supaya kapal nusantara ini dapat berlayar menuju negeri kesejahteraan. Ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab untuk mengisi celah sejarah tersebut:

Pertama, mampukan kita mengisi apa yang ingin saya sebut sebagai “kekosongan konseptual” dalam bidang literasi dalam wacana kenegaraan kita saat ini? Sebab setiap kekuatan baru yang muncul tanpa membawa konsep yang kuat niscaya tdak akan bertahan lama di pangung sejarah.

Kedua, mampukah kita menggalang dan mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan lainnya? Pembangunan budaya literasi adalah sebuah upaya yang memerlukan sinergi dari berbagai bidang atau multidisiplin seperti. Sangat mustahil solusi terhadap problematika literasi hanya dilihat dari perspektif kependidikan dan kepustakawanan saja. Oleh karena itu, selain memerlukan keluasan wawasan juga memerlukan keterampilan komunikasi untuk membangun sinergi.

Ketiga, mampukan kita menyiapkan aktivis atau relawan yang akan menjadi pelopor yang senantiasa memiliki stamina perjuangan yang konstan. Para aktivis harus berjuang di antara opitmisme dan angin pesimisme yang bertiup kencang yang terkadang ditiupkan oleh orang yang mestinya mendukung. Aktivis literesi tidak akan hidup enak dan nyenyak di menara gading, tapi harus membaur dengan masyarakat, bergulat dengan keriangat dan air mata para pegiat literasi di akar rumput.

Keempat, mampukan kita meraih dukungan publik yang luas dan meyakinkan penguasa serta pemangku kepentingan lainnya? Karena sebuah upaya perubahan yang terstruktur, sistematis, dan massif harus dilakukan melalui pendekatan kultural dan struktural (kekuasaan). Upaya yang kita lakukan akan berhasil meraih dukungan dari pengabil kebijakan dan mendapatkan dukungan dari publik apabila kita mampu membaca keinginan rakyat dan membahasakannya dalam agenda-agenda kerja kita.

Celah sejarah mungkin berulang di kesempatan yang lain, tapi tidak dalam waktu yang berdekatan. Jadi sekaranglah waktunya kita untuk beraksi supaya kutukan literasi tidak terjadi. Mari! (Suherman)

Last Updated on Tuesday, 17 January 2017 10:21
 
E-mail

Dari Jeda ke Renaisans

Tanpa jeda tidak akan ada irama dan tanpa irama tidak akan ada makna. Sesungguhnya jeda adalah ruang kosong atau perantara supaya yang telah lalu dan yang akan datang memiliki arti.

Tidak terasa sudah satu tahun lebih melakukan jeda tidak menyentuh situs MLI. Rasanya sudah cukup waktu berhenti untuk memikirkan yang sudah lewat dan yang akan datang.

Banyak hal dan peristiwa yang tidak tertuliskan dan terlaporkan. Banyak juga  pertanyaan yang tidak dijawab.  Situs ini seperti situs atau artefak prasejarah yang memfosil tidak ada dinamika di dalamnya.

Bisa jadi situs ini merupakan cermin dari negeri ini walaupun, tentu saja, tidak kita inginakan. Rasanya sudah terlalu lama bangsa kita meninggalkan jati dirinya sehingga lupa bahkan asing terhadap dirinya sendiri. Bangsa yang pernah melegenda dan  negeri yang bagai di alam surgawi  sekarang banyak rakyatnya bagaikan menjadi  gelandangan di negeri sendiri  atau kata Bung Karno menjadi “koeli di negeri sendiri”. Kami meyakini bahwa jalan literasi ini adalah jalan yang tepat untuk  mengembalikan harga diri bangsa dan merebut masa depan.   Jalan literasi adalah jalan untuk membangunkan kembali  kesadaran  bangsa rajawali yang telah lama tertidur dan mungkin pingsan dibius tipu daya Barat dan Utara.  “Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberaian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata“ (WS Rendra)

Kesadaran yang kami bangun adalah kesadaran tentang pentingnya ilmu pengetahuan, yang sangat menentukan untuk kemajuan  manusia. Sejarah hanyalah catatan pembuktian kebenaran kata-kata “pengetahuan adalah kekuatan.” Manusia, bangsa, dan  peradaban yang mampu memimpin adalah mereka yang memiliki pengetahuan lebih banyak dan lebih baik  dari yang lain. Dan kunci utama untuk meraih ilmu pengetahuan adalah membaca atau budaya literasi. Lego ergo scio (aku membaca maka aku tahu)

Ternyata di usia yang ke 5 tahun ini ada 9.027.938 tamu yang berkunjung ke situs MLI dengan 1.875 yang mengiklaskan diri menjadi anggota.  Mohon maaf apabila kami, sebagai tuan rumah, kurang sapa, tidak sopan, dan tidak memuaskan Anda dalam memberikan suguhan.

Kami rasa sekaranglah saat yang tepat untuk melakukan peralihan atau kelahiran kembali atau renaisans. Kini ada secercah harapan karena belakangan ini budaya literasi mulai dilirik oleh masyarakat dan negara.  Literasi mulai diakrabkan di lembaga-lembaga pendidikan dan  di ruang-ruang publik. Para aktivis dan pegiat, yang selama ini  seperti yatim piatu,  mulai disapa oleh negara.

Akhirnya, parsitipasi pembaca  adalah denyut nadi dan api kami untuk bisa terus melangkahkan  kaki meonyongsong masa depan yang lebih baik melalui jalan literasi.   Kami mengajak pembaca untuk sama-sama membuat kembali narasi bagi negeri tercinta ini supaya bangsa kita kembali melegenda. Semoga! (Suherman)

Last Updated on Monday, 16 January 2017 09:57
 


Page 2 of 5

Balai Pustaka

1. Di Bawah Lindungan
2. Siti Nurbaya

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


The Inspirational Librarian



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module

<marquee> Selamat Datang di Masyarakat Literasi Indonesia </marquee>

Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,793
  • Sedang Online 53
  • Anggota Terakhir M Fajarun Amin

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9189250
DSCF8761.jpg

Kalender & Agenda

March 2019
S M T W T F S
24 25 26 27 28 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC