.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

IPTEK Populer
E-mail

LITERASI DIGITAL TERAPAN: UNTUK PARA WALIKOTA!

oleh

Rida Gandara


Setiap Kota di Dunia Memiliki pola kepemimpinannya tersendiri, ada yang memilih dinasti atau feodal; ada yang memilih partisan atau blok; ada yang memilih individualis atau solo; ada pula yang memilih service atau merakyat.

Pola kepemimpinan apa pun jika dipadukan dengan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi akan menjadi Kekuatan pengali; berlipatnya energi bagi kepemimpinan.

Seorang diktatör ditambah IPTEK akan bertambah kuat seperti Presiden Fir’aun dan Perdana Menterinya Hamman. Seorang komandan ditambah IPTEK akan bertambah kuat seperti Presiden Heraklius Sang Kaisar Romawi Jadul dan Presiden Julius Sang Kaisar Romawi Popular.

Menilik Kelas Pemimpin Kota, Adalah Mustahil Sebuah Kota Bisa memperluas wilayahnya di masa kini demi Membangun Kerajaan Realistik; Kerajaan dengan bentang wilayah mencaplok kota-kota lain dan berkuasa penuh didukung penempatan militer dan wakil-wakil pemerintahan Yang dibentuknya. Mustahil walikota Membangun Kerajaan dengan Perluasan Penjajahan.

Walikota masa kini, walikota zaman Now Lebih memilih Merakyat Dan Melayani; atau Menyendiri Dan Menjadi Katak Dalam Tempurung. Tak banyak walikota di Dunia ini yang berhasil Menjadikan Sebuah Kota norak Berubah menjadi Kota keren. Padahal cukup bağı seorang walikota meng-install program-program pemberdayaan Masyarakat dengan menambah dan membangun Budaya Baca yang maksimal kepada warga; memberi Bükü, Koran, Majalah, Dan Bahan Bacaan yang Membuat Warganya bersemangat untuk Belajar Membuat Karya Berharga. Apalah artinya Jabatan walikota Jika Warganya banyak yang tidak bisa buang sampah pada Tempatnya, malah buang sampah di Selokan dan Pinggiran Jalan Lalu Dibiarkan menumpuk saja. Selama berganti walikota Itu kejadiannya Sama Saja, Sampai dikenal Tempat itu sebagai Tempat Bebas buang Sampah Karena tetap ada aparat pemerintah bawa truk untuk angkut sampah-sampah sembarangan itu. Kejadian yang sangat memalukan, walikota kalah oleh budaya bebas orang-orang yang sombong dalam membuang sampah.

Semua orang buang sampah Di kota. Dan Semua Orang tahu, kenal, bisa membuang sampah di Tempat yang telah disesuaikan; atau malah dia memilih buang di tempat semaunya (bebas;liberal) meski merugikan Orang lain, hewan Dan tumbuhan Di sekitarnya, bahkan mencemari air Bersih yang Dibutuhkan semua Makhluk Hidup.

Apakah semua orang yang buang sampah punya HP? Apakah Setiap orang Kota punya telepon genggam; telepon pintar; atau Gawai? Apakah walikota yang ber-ijazah Sarjana tidak bisa meng-kampanyekan Gerakan Buang Sampah Pada Tempatnya melalui Media Sosial yang biasa diakses Warga Kotanya?

Setidaknya Walikota ber-ijazah Sarjana harus Mampu membuat Inovasi Yang menjadi Solusi Di ERA DIGITAL masa kini bagi Warga Kotanya. Apalagi Walikota yang ber-ijazah Master dan Doktor. Seharusnya ketinggian pendidikan formal seorang walikota menampakkan Pula Derajat Tingginya Solusi yang bisa Diberikan bagi Warga Kota.

ERA DIGITAL Seharusnya menyentil telinga para Walikota agar SEGERA ber-LITERASI Karena Mereka akan Memiliki energi berlipat untuk Merakyat dan Melayani dengan banyak Inovasi bagus dan Bikin Warganya tersenyum bahagia; bersyukur kepada ALLAH Yang memberi Mereka Hidup penuh Nikmat. Bukankah Jabatan Walikota itu Amanah berupa kekuasaan Sementara di Dunia untuk mengajak Warga memohon kenikmatan Hidup dan berterima Kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Walikota Tanpa Literasi Digital Bagaikan Presiden Katak yang Tinggal di Semak Belukar dalam Tempurung. Berenang Pun İa tak mau, Apalagi mengajak rakyatnya Mencari Makanan Di Danau Istana.

Walikota Tanpa Literasi Digital tidak punya alamat email yang bisa dihubungi Dan membalas Surat elektronik Warganya. Dalam hal ini saya punya Kisah Nyata, seorang mantan artış mencalonkan diri maju sebagai calon walikota, Namun dia pasang nomor HP yang tidak aktif; pasang alamat email yang juga tidak aktif; tulis alamat website yang hanya pajangan Gambar şaja seperti Instagram-nya. Tapi intinya, Calon Walikota Ini Sudah Membuat Tempurung bağı Dirinya dan Masyarakat. Untung dia tidak terpilih jadi Walikota!

 
E-mail

Smart City atau Kota Literasi ?

Oleh

Rida Gandara

Sering para Pejabat menyebut kata “Pembangunan” yang pada kenyataan-nya banyak Bangunan tidak mengakomodir keperluan Masyarakat yang Butuh; Perlu; atau Ingin menggunakannya. Contoh, ada taman kota ada bangku dan mejanya, tapı tidak ada Air minum Bahkan Bükü untuk dibaca Warga. Contoh lagi, dibangun taman dengan ayunan dan perosotan, tapı begitu sore hari berkumpul komunitas geng motor Dan saat malam Bertebaran sampah kacang dan kaleng bekas minuman. Pembangunan Fisik yang tidak optimal, dibuat Tanpa Kajian dan Standar Operating Procedures (SOP), diberikan pada Warga Asal Pencitraan dan sekedar ada Saja, tak ada Penjagaan dan Pembinaan bagi Masyarakatnya.

Seharusnya Pembangunan Sebuah Kota itu diarahkan jadi Kota yang Pintar, Bukan kota yang dibodohkan atau kota yang diberi fasilitas tak berguna. Sebutlah SMART CITY, Misalnya dibangun taman Bukan hanya Dikasih akses wi-fi, tapi Kasih Buku-Buku Bacaan Bagus yang inspiratif. Orang senang Di Taman berjam-jam pakai wi-fi dibiayai Uang Daerah hanya untuk main game online pasti beda hasilnya dengan Orang yang asyik baca koran online atau mengisi survey kepuasan Warga Kota via online pada website Pemerintah Kota. Tapi, tetaplah berikan Buku-Buku Bacaan Bagus yang Mendidik, sediakan Di Taman-Taman Kota Dan Semua fasilitas Umum Warga Kota. Selama minimal ada Bangku atau Kürsi, yang namanya SMART CITY Wajib menyediakan Buku Bacaan gratis yang inspiratif. Buku Ini Dibutuhkan, Diperlukan, dan Diinginkan oleh Warga Kota; atau Suatu Kota yang sedang bodoh ağar Berubah Jadi Pintar dan Mampu Berubah Jadi Sejahtera. Bukan Berubah Jadi Kota Game Online Yang semua Anak SD, SMP, SMA pada nongkrong sibuk pakai wi-fi Negara atau Daerah hanya untuk memuaskan hawa nafsu hiburannya.

Kota yang disukai Warganya Itu nilai 6 (enam) artinya sudah Berubah poin dari kota yang buruk. Tapı, Kota itu harusnya dibangun menjadi SMART CITY yang disukai Warganya Karena Mendidik Warga; plus Mendidik Anak-Anak juga Jadi Warga Muda yang Pandai Ber-inovasi.

SMART CITY pada masa kini identik dengan digitalisasi, OKE. Tapi, pikirkan SMART CITY yang tidak Hancur saat listrik padam atau saat akses internet hilang.

Bükü-Buku Sebenarnya Bisa bikin Sebuah Kota Jadi Pintar. Tapı, apakah walikotanya sadar akan hal ini?

Pejabat mana pun, Walikota mana pun yang tidak Gemar Membaca hanyalah tokoh boneka pajangan; atau robot yang tidak punya kebiasaan Belajar Dan Mengajar bersama Warganya, seperti selayaknya Pemimpin Kota yang SMART.

Lebih jauh lagi Seharusnya para Walikota Berani membuat Kota Literasi! Kota yang ruang-ruang Kecil Dan Besarnya diisi Kegiatan MEMBACA DAN BER-INOVASI.

Kota Literasi tentu Bersahabat dengan Masyarakat lokal dan İnternasional. Pandangan jernihnya Mampu Mewujudkan Masyarakat Beradab, Terdidik, Mandiri Dan Pandai Bekerjasama untuk Meraih Kesejahteraan Bersama. Orang Dari Desa tidak terlalu Kaget Datang ke Kota Literasi karena banyak Pemandu dan Penjaga Kota yang ramah Siap memberikan informasi penting dan melayani keperluan Warga Desa terhadap Kota Literasi. Lebih jauh Warga İnternasional Hanya akan bersenang-senang dengan kameranya terhadap Kota Literasi yang Indah. Kota ini akan menghiasi Medsos sebagai kabar gembira, bukan sekedar goodnews. Nilai tambahnya Kota Literasi dapat menghasilkan Devisa.

Kota Literasi sulit dibohongi Ketika warganya Gemar Membaca Bersama Walikotanya tentang Keutamaan Menyampaikan Berita Jujur Dan Meneliti Asal Usul Berita yang dapat Dipercaya. Kota Literasi pun sulit diserang secara militer manakala Warganya Gemar Membaca, Belajar Dan Berlatih dengan Walikotanya tentang Bagaimana Mempertahankan Dan Membela Tanah Air Mereka.

Last Updated on Tuesday, 26 March 2019 09:21
 
E-mail

Media Indonesia 31 Maret 2011

Transfer Teknologi dan Keberlanjutan Industri

Marhaindro Waluyo dan Ardiani Damaryanti

Kementerian Riset dan Teknologi

BESARNYA manfaat dari diserapnya ilmu pengetahuan dan teknologi sangat luar biasa. Oleh karena itu, ba-nyak negara berkembang, termasuk Indonesia, b.er-buru ilmu pengetahuan dan teknologi serta berkeinginan untuk menguasai demi ter-capainya perbaikan kualitas hidup rakyat mereka. Adanya keterbatasan-keterbatasan yang menghadang dalam pe­nguasaan teknologi berakibat tidak semua keinginan dapat dipenuhi.

Transfer teknologi merupakan salah satu jalan untuk menghi-langkan keterbatasan tersebut dan menuju peningkatan dan penguasaan teknologi. Kebijakan itu merupakan strategi dalam pengembangan kemarn-puan surnber daya manusia agar produktivitasnya lebih meningkat lagi. Produktivitas manusia yang meningkat akan menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan berdaya saing.

Teknologi betul-betul bersifat strategis dan menyangkut harkat hidup banyak orang. Dari teknologi dapat dihasil-kan aneka produk yang dapat menghidupi suatu masyarakat bahkan negara sekalipun. Itulah sebabnya begitu su-sah mencapai kemandirian teknologi karana tnemang ada proteksi di mana-mana.

Read more...
 
E-mail

Kompas  rabu 16 juni  2010

Teknologi SBY, dan Obama

Oleh ARY MOCHTAR PEDJU


Pada 20 Januari 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato di depan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan masyarakat Ilmiah di Puspiptek, Serpong.

Namun, pidato ini kurang disambut antusias oleh media walaupun terasa penting. Tidak antusiasnya media mungkin karena topiknya "hanya" tentang teknologi dan pendidikan. Terasa penting karena Presiden AS Obama ikut menyambut, dibacakan duta besarnya.

Diawali dengan mengilustrasikan majunya peradaban Islam pada abad pertengahan karena penguasaan, kemampuan, dan pengembangan iptek yang dilengkapi beberapa contoh hasil temuan, SBY mengungkapkan satu keyakinan: arus sejarah yang dahsyat akan mewarnai abad ke-21 dengan perubahan yang terutama digerakkan kedigdayaan teknologi. Dalam iklim politik galau sekarang, pemikiran tentang peradaban manusia dengan martabatnya seperti di atas tentu menyejukkan. Perkataan "per­adaban" diucapkan Presiden hingga 10 kali dan "inovasi" 22 kali.

Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 12

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


<marquee> Selamat Datang di Masyarakat Literasi Indonesia </marquee>

Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 16
  • Anggota Terakhir custom writing

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9260689
bacalah.jpg

Kalender & Agenda

May 2019
S M T W T F S
28 29 30 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 1

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC