.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail

UNDUH BUKU PROFIL MLI

Masyarakat Literasi Indonesia

Membangun Masyarakat Berpengetahuan

 

 

Last Updated on Tuesday, 26 March 2019 15:16 Read more...
 
E-mail

Last Updated on Tuesday, 26 March 2019 09:08
 
E-mail

Lego Ergo Scio


Judul di atas adalah bahasa Latin yang artinya “Saya membaca buku, maka saya tahu.” Kata-kata ini diyakini memilki landasan ideologis, ontologis, dan epistemologis yang berlaku universal. Dengan penghayatan yang mendalam tentang kata-kata tersebut maka kita akan mengerti mengapa para pakar menganggap seolah-olah membaca adalah nyawanya peradaban. Berikut adalah parade pendapat tentang pentingnya membaca yang dikemukakan oleh para ahli yang memiliki beragam latar belakang, lintas negara, dan lintas zaman: Barbara Tuchman Wertheim (1912-1989), sejarawan dan penulis berkebangsaan Amerika yang telah memenangkan dua kali Hadiah Pulitzer, mengatakan bahwa, “buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.” Perkataan yang senada juga diucapkan oleh Thomas Bartholin (16161680), seorang dokter, ahli matematika dan teolog Denmark, “Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu, dan seluruhnya dirundung kegelapan. Thomas Stearns Eliot (18881965), penyair masyhur Inggris berucap “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca. Salah satu pilar penyangga budaya tulis dan baca adalah buku.” Paulo Friere (19211997), filusuf yang terkenal dengan pedagogi kritis dari Brasil mengatakan, “Buku ibarat lentera yang memberi cahaya kehidupan dan membebaskan manusia dari kebutuhan ilmu pengetahuan.”[1] Walter Elias Disney atau lebih dikenal sebagai Walt Disney (19011966) produser film, sutradara, animator, dan pengisi suara berkebangsaan Amerika Serikat. Ia terkenal akan pengaruhnya terhadap dunia hiburan pada abad ke-20 mengatakan, “Ada lebih banyak harta yang terkandung di dalam buku ketimbang seluruh jarahan bajak laut yang disimpan di pulau harta karun.” Tidak ada teman setia sebagaiman buku (Ernest Hemingway, 1899 -1961). Melewatkan makan, jika memang harus, tak jadi masalah. Tapi jangan lewatkan buku (Jim Rohn, Pengusaha Amerika, 1930-2009). Ide-ide yang saya perjuangkan bukan milik saya. Saya meminjamnya dari Socrates. Saya mengutipnya dari Chesterfield. Saya mencurinya dari Yesus. Dan saya menempatkan ide-ide itu dalam sebuah buku. Jika Anda tidak menyukai aturan mereka, lalu ide siapa yang akan Anda pakai ?’” (Dale Carnegie, Guru Motivasi, 1888-1955).

Muhammad Adnan Salim mengatakan, “ Bangsa yang tidak mau membaca tidak bisa mengenali dirinya sendiri dan tidak mengetahui orang lain. Bacaan akan berkata: di sinilah orang-orang terdahulu berhenti. Di sinilah dunia bergerak saat ini. Jangan mengulangi kesalahan yang pernah mereka lakukan”.[2] Peradaban, kata El-Fadl, tidak dibangun di atas kenyamanan dalam kelambanan dan kebodohan. Peradaban selamanya dibangun di atas penderitaan para syuhada perbukuan”.[3]

Masih banyak lagi kata-kata mutiara yang deciptakan oleh para sastrawan, filusuf, dan lain-lain. Saya ingin mengutip satu lagi dari seorang negarawan terkenal Amerika, Thomas Jefferson, yang mengatakan, “Saya tak bisa hidup tanpa buku.” Hampir seluruh presiden amerika sesudah Jefferson hingga Obama sekarang ini menaruh perhatian yang begitu besar terhadap pembangunan budaya membaca di negaranya. Penghargaan Amerika terhadap buku tercermin dari bagaimana negara ini membangun perpustakaan dan membuat program sosialisasi budaya membaca yang begitu spektakuler. Hartoonian, seorang politikus AS, diwawancara wartawan perihal apa yang harus dilakuka bangsa Amerika untuk mempertahankan supremasinya. Jawabannya, “if we want to be a super power we must have individuals with much higer levels of literacy.” Individu yang peduli akan tradisi literasi merupakan benih masyarkat maju. Capaian terhadap budaya literasi akan menghantarkan sekumpulan masyarakat cerdas dan kritis dalam membangun bangsanya. [4]

Berikut saya juga tuliskan pendapat dari pahlawan, orang besar dan para intelektual dalam negeri tentang pentingnya membaca buku: Mohammad Hatta sang negarawan sejati yang pernah dimiliki Indonesia, mengatakan, “Buku merupakan sahabat sejati yang menemani hari-hari. Buku merupakan tempat studiku yang paling damai selama memiliki buku aku bisa hidup di manapun, tak seorang pun yang merasakan hidup nikmat di penjara.” Dalam kesempatan yang lain Hatta pun pernah berujar, “ Kalian bisa memenjarakanku, tapi selama aku bersama buku, aku tetap bebas.” [5] K.H. Agus Salim, yang gigih dengan otodidaknya, berujar, “Dunia tanpa buku ibarat malam tanpa cahaya. Semuanya menjadi serba gelap.”

“Bagi saya, buku itu dunia ide, dunia gagasan. Peradaban modern berkembang dan maju karena buku. Peradaaban berkembang karena dunia gagasan, dunia ide, yang bergerak , dan tak pernah berhenti bertanya tentang apa lagi dan apa lagi, yang bisa membikin manusia hidup enak, makmur, dan sejahtra.” [6]

“Melek huruf atau aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat baca. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide besar, segar, dan baru? Apabedanya orang yang buta aksara dengan buta membaca?” (Toeti Adhitama, Makna Membangkitkan Minat Baca, Media Indonesia, 12 September 2008).

“Lewat buku mereka bisa berkeliling dunia tanpa hrus ter bang ke sana. Buku juga menjadi ajang dialog yang tidak sekedar meambah wawasan, tetapi melatih kedewasaan dalam menerima perbedaan. Bahkan, buku misa membuat orang terpenjara di dalamnya karena kuatnya cerita yang disajikan.” (Iskandar Zulkarnaen, Mereka Bersahabat Dengan Buku, Kompas, 24 Mei 2012)

Milan Kundera (1929), novelis dari Republik Ceko, mengatakan, ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.”[7] Tapi ada cara lain selain yang “disarankan” Kundera yaitu anjurkan supaya masyarakat tidak membaca, atau biarkan supaya budaya baca masyarakat terus berada dalam kondisi yang rendah. Bukankah sama saja antara memiliki buku akan tetapi tidak dibaca dengan tidak memiliki buku. Dua-duanya akan mengakibatkan kebodohan bangsa yang akhirnya akan mengancurkan peradaban bangsa.[8]

Supaya kondisi bangsa kita tidak terus berada dalam kubangan keterbelakangan maka, sekali lagi, membaca harus menjadi budaya di masyarakat. Kita semua sangat merindukan, dan akan berjuang ke arah itu, kondisi budaya bangsa seperti digambarkan dalam puisi karya Taufiq Ismail yang berujudul “Kupu-Kupu Di Dalam Buku” berikut:

Ketika duduk di stasiun bis, di gerbong kereta api,

di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,

kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,

dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,

di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku

dan cahaya lampunya terang-benderang,

kulihat anak-anak muda  dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,

dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,

warna-warni produk yang dipajang terbentang,

orang-orang memborong itu barang

dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,

dan aku bertanya  di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,  

Ketika singgah di sebuah rumah,

kulihat ada anak kecil bertanya tentang kupu-kupu pada mamanya,

dan mamanya tak bisa menjawab keingin-tahuan puterinya, kemudian  katanya,
“tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”,

dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,  

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,

di stasiun bis dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku dibaca,

di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,

di tempat  penjualan buku laris dibeli,

dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu

tidak berselimut debu karena memang dibaca.
(Taufiq Ismail, 1996)

Mungkin saja banyak orang yang karena situasi dan kondisi tidak bisa membaca buku, akan tetapi jangan sekali-kali untuk mengabaikan, mengingkari, apalagi sampai hati untuk meninggalkannya. Bacalah kata-kata dari Winston S. Churchill, penggemar buku dan tokoh politik dan pengarang dari Inggris yang paling dikenal sebagai Perdana Menteri Britania Raya sewaktu Perang Dunia Kedua memperingatkan kita semua, “ Apa yang harus kulakukan dengan semua bukuku? Adalah pertanyaan dan jawabannya, ‘Baca mereka.’ Tetapi jika kau tidak bisa membaca mereka, pegang mereka, atau tepatnya timang mereka. Pandangi mereka. Biarkan terbuka di manaupun mereka mau. Bacalah dari kalimat pertama yang menarik bagimu. Lalu balik ke halaman berikutnya. Lakukan petualangan, arungi laut yang belum terpetakan. Kembalikan mereka ke rak dengan tanganmu sendiri. Susun mereka dengan aturanmu sendiri, jadi jika kau tidak tahu apa isi mereka, setidaknya kan tahu di mana posisi mereka. Jika mereka tidak bisa menjadi temanmu, setidaknya jadikan mereka kenalanmu. Jika mereka tidak bisa memasuki lingkaran kehidupanmu, setidaknya jangan ingkari keberadaan mereka.” [9] (Suherman)

 



[1] Terkenal di Indonesia melalui bukunya Pendidikan Kaum Tertindas (Jakarta: LP3ES, 1983)

[2] Dikutip dari Erwan Juhara, “Buku dan Peradaban”, Republika, 23 Mei 2012

[3] Dikutip daari Hajriyanto Y. Thohari, Buku dan Masa Depan Perdaban Kita, Seputar Indonesia, 5 Februari 2008.

[4] Dikutip dari Restu Ashari Putra, “Membaca Resep Ampuh Antibodoh”, Media Indonesia, 27 Desember 2009

[5] Diana AV Sasa dan Muhidin M. Dahlan. Para Penggila Buku: Seratur Catatan di Balik Buku. Yogyakarta: I:BOEKOE, 2009), hal. 21

[6] Mohamad Sobary. “Buku dan Watak Bangsa”, Kompas 17 September 2006.

[7] Diana AV Sasa dan Muhidin M. Dahlan. Para Penggila Buku: Seratur Catatan di Balik Buku. Yogyakarta: I:BOEKOE, 2009.

[8] Joseph Brodsky, pengarang kelahiran Rusia yang diasingkan dan kemudian menjadi warga negara Amerika, serta pemenang Nobel Sastra 1987, mengatakan “Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” (Putut Widjanarko. Elegi Gutenberb. Bandung: Mizan, 2000, hal. 82)

[9] Dikutip dari novel karya Allison Hoover Bartlett. The Man Who Loved Books Too Much. Tangerang: Pustaka Alvabet, 2010, hal. 105

 
E-mail

Poster SMW

Last Updated on Friday, 24 August 2018 07:23
 
E-mail

Ideologisasi Membaca


Oleh:

Suherman

Apa sesungguhnya yang mendorong individu atau kelompok masyarakat tertentu untuk keranjingan membaca. Bagi mereka seolah-olah membaca adalah sebuah perjuangan untuk menentukan posisi bahkan eksistensi. Bagi yang berpegang tegus pada nilai-nilai agama seolah-olah membaca adalah jihad dengan aksara sebagai upaya yang harus ditempuh untuk merebut posisinya di surga. Sebaliknya, bagi yang tidak percaya pada kehidupan setelah mati seolah-olah mereka beranggapan bahwa membaca adalah salah satu jalan yang harus ditempuh oleh manusia apabila ingin memenangkan persaingan atau survival of the fitest. Seolah-olah mereka berkata, “mari kita selesaikan di sini, di dunia ini.” Bertahan atau musnah.

Barangkali begitulah seharusnya kerangka berpikir yang harus dimiliki oleh setiap warga negara supaya memiliki budaya membaca dan inilah yang saya sebut dengan faktor-faktor parigmatik yang di antaranya terdiri dari ideologi.

Ideologi

Kata ideologi pertama kali diperkenalkan pada masa revolusi Prancis 1796 oleh filusuf Prancis Antonie Destutt de Tracy. Kata ini berasal dari bahasa Prancis ideologie, merupakan gabungan dua kata yaitu ideo yang mengacu pada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Bagi Tracy ideologi dimaksudkan dengan “ilmu tentang ide” yang diharapkan dapat mengungkap asal-muasal dari ide-ide dan menjadi cabang ilmu baru yang kelak setara dengan biologi atau zoologi. Namun, makna ideologi berubah di tangan Karl Marx sebagai alat untuk mencampai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.

Menurut Ali Shariati ideologi terdiri dari berbagai keyakinan dan cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tetentu, suatu klas sosial, atau suatu bangsa, atau suatu ras. [1] Ideologi memiliki tiga pentahapan. Tahap pertama adalah cara kita melihat dan menangkap alam semesta, eksistensi, dan manusia. Tahap kedua terdiri dari cara khusus dalam kita memahami dan menilai semua benda dan gagasan atu ide-ide yang membentuk lingkungan sosial dan mental kita. Tahap ketiga mencakup usulan-usulan, metode-metode, berbagai pendekatan dan keinginan-keinginan yang kita menfaatkan untuk mengubah status quo yang kita tidak puas. Pada tahap ketiga inilah ideologi mulai menjalankan misinya dengan memberikan pada para pendukungnya pengarahan, tujuan, dan cita-cita serta rencana praktis sebagai dasar perubahan dan kemajuan kondisi sosial yang diharapkan.[2]

Akan tetapi kini ideologi lebih diartikan sebagai sistem berpikir universal manusia untuk menjelaskan kondisi mereka, berkaitan dengan proses dan dinamika sejarah, dalam rangka menuju masa depan yang lebih baik. Berakar pada hukum kaum liberalis, ideologi diartikan sebagai sistem kepercayaan individu tentang dunia yang lebih baik, sehingga tampaki sebagai pola pikir (mind-set) bagi penganutnya. Ideologi pun dapat dilihat sebagai “cara pandang dunia” (world view) penganutnya untu menilai situasi keseharian mereka dalam rangka mencari jalan untuk mewujudkan kehidupan terbaik di masa yang akan datang. Namun berdsarkan kecenderungan masyarakat masa kini, ideologi dipandang sebagai kumpulan ide atau konsep mengenai cara hidup (way of life) diwarnai oleh budaya dan tatanan masyarakat serta kehidupan politik. Ideologi memiliki unsur konsep atau ide yang diyakini serta diaplikasikan sebagai cara pandang menghadapi masa depan. Ideologi sarat dengan dimensi keyakinan dan utopi.

Ideologi menjadi visi yang komprehensif dalam memandang sesuatu, yang diformulasi secara sistemik dan ilmiah dari seseorang atau sekelompok orang mengenai tujuan yang akan dicapai dan segala metode pengcapainnya. Ideologi berisi pikiran dan konsep yang jelas tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta serta kehidupan yang diyakini mampu menyelesaikan problematika kehidupan.

Dari kumpulan pengertian ideologi seperti di atas, maka jelas bahwa tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa ideologi. Manusia tanpa ideologi hanya akan mengejar kemajuan material, namum mengalami kehampaan dalam aspeek emosional dan spiritual, sehingga teralineasasi serta kehilangan identitasnya yang sejati, lalu mereka mengalami disorientasi dan kesengsaraan hidup. Ideologi menyediakan kejelasan arah bagi manusia, dorongan, pembenaran dan dasar bagi aktivitas untuk bergerak menggulirkan agenda dan aksi-aksinya. Karenanya ideologi menyediakan elan vital, etos, dan bahkan militansi perjuangan. Semangat rela berkorban adalah refleksi keyakinan ideologis.

Makna ideologi yang indah seperti diatas seolah nampak seperti ada di atas awan bukan di atas bumi Indonesia. Indonesia kontemporer seolah tidak memiliki ideologi. Juga seperti tidak memiliki narasi, tidak cita-cita besar, atau tidak memilki utopi. Indonesia sekarang sedang kebingungan untuk menentukan masa depannya. Rasa romantisme terkadang membuncah kalau teringat kejayaan Sriwijaya atau Sumpah Palapanya Gadjah Mada yang ingin menyatukan nusantara. Alih-laih menjadi negara besar, kini Indonesia malah dimutilasi secara perlahan baik secara geografi, kedaulatan bahkan kebudayaan. Sehingga cita-cita ‘Trisakti’ yang dulu digaungkan oleh Soekarno kini berubah menjadi “Tripetaka” sehingga dalam dialog atau perjumpaan antar bangsa kini kita merasa tidak memiliki muka. Budayawan Taufiq Ismail (1998) dalam bait puisinya menyindir dengan tajam keadaan karakter bangsa ini,” malu aku jadi orang Indonesia.”

Kita terkadang iri dengan negara Amerika Serikat yang selalu ingin menjadi to be number one di segala bidang sehingga memang layak menjadi negara adidaya. Bangsa China yang merasa sebagai bangsa besar dan dengan budaya kuno tinggi warisan ribuan tahun. Jepang yang melalui jalur tenno heika merasa sebagai bangsa keturunan Dewa Matahari (Amaterasu), maka Indonesia sekarang ini tampak merunduk lesu secara ideologis. Tidak ada cita-cita besar dan heroisme untuk membangun peradaban adiluhung sebagai bangsa besar.

Budayawan Koenjaraningrat menyebut kita mengidap budaya instant atau “menerabas” budaya potong kompas, budaya miopis (rabun dekat). Ingin cepat sukses, kaya, atau berkuasa dengan usaha sedikit, dan kalau perlu tabrak aturan. Tak mampu melihat masa depan yang jauh, paling banter melihat dalam periode “lima tahunan.” Budaya “menanam jagung” yang tiga bulanan, ketimbang budaya “menenam jati” yang harus menunggu puluhan tahun. Budaya “jalur cepat” menuju sasaran, kalau perlu melangkahi kepala orang. Budaya selebritis instan yang ingin populer dalam sekajap. Atau, budaya “satu hari untung beliung” Seperti judul-judul buku populer: Jalan Pintas Menjadi Kaya, Cara Cespleng Pintar Matematika, dll.

Program-program pembangunan apabila diperhatikan banyak yang bersifat reaktif terhadap dinamika lingkungan strategis baik nasional maupun global. Seolah-olah tidak nampak program-program antisipatif yang visioner untuk masa depan Indonesia. Inilah salah satu ciri bahwa bangsa kita belum dewasa dalam berpikir, karena “kemampuan antisipasi merupakan indikator kebudayaan tentang kedewasaan suatu bangsa, apakah dia akan menghadapi masalah dengan terkejut dan emosional atau dia akan menanggapinya secara rasional dan siap mengatasinya.”[3] Penyakit kronis kita idap adalah kurang mengharagai mutu, memburu rente dalam ekonomi, politik uang dalam kekuasaan, gelar palsu dalam pendidikan, barang tiruan dalam perdagangan. Dalam budaya pragmatis dan hedonis seperti itu jelas “profit lebih penting daripada profet” atau “Pertanyaan ‘berapa kekayaanmu’ dianggap jauh lebih penting daripada ‘apa yang sudah kamu perbuat untuk bangsamu’. Akhirnya bangsa ini hanya punya para penyelenggara yang kaya material, tetapi miskin integritas, komitmen, dan kapabilitas serta dedikasi.”[4] Mentalitas seperti ini jelas sangat berpengaruh terhadap pembangunan budaya baca karena investasi dengan pengetahuan atau membaca merupakan investasi jangka panjang yang mungkin melintasi genarasi bahkan lintas zaman. Membangun bangsa dengan membaca adalah memerlukan bungker kesabaran yang membaja.

Kini, ideologi tak mendapat tempat, idealisme hanya tersisa di pojok-pojok sempit ruang kuliah atau kelompok-kelompok diskusi. Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian. Kembalikan Indonesia padaku! (Taufiq Ismail, 1971)

Bangsa ini perlu kembali menata cara pandang, membiakkan mimp-mimpi besar, memfokuskan masa depan, membangun gairah dan militansi, serta menancapkan cita-cita besar yang hidup dan dirasakan di dalamm hati. Sehingga energi bangsa ini tidak terbuang dalam gerak chaotic melingkar, namun mengalir sinergis dan fokus. Untuk itu, kita butuh semangat ideologi. Tanpa ideologi manusia hanya berlari mengejar peradaban materi, namun hampa dalam aspek emosi dan spirit. Secara kolektif jadilah kita bangsa yang miskin romantika sebagai mana perkataan penyair Jerman Schiller yang sering dikutip oleh Bung Hatta, “ Suatu abad besar telah lahir namun ia menemukan generasi kerdil”

Ideologisasi Membaca

Upaya ideologisasi membaca harus segera dilakukan supaya pembangunan budaya baca bangsa terjuwud secara akseleratif. Yang dimaksudkan dengan ideologisasi membaca adalah upaya mengubah cara pandang atau mind-set masyarakat supaya membaca dijadikan sebuah keyakinan atau kepercayaan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup. Juga agar membaca dipandang sebagai jalan kenabian atau sebuah titah suci dari Tuhan sebagai cara untuk mengelola dunia. Membaca dijadikan sebuah kegiatan yang memiliki nilai suci yang harus diperjuangkan dan disebarkan secara sadar dan totalitas oleh masyarakat. Negara harus berperan untuk mengemukakan serangkain ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menerangkan dan sekaligus memberi dasar pembenaran bagi pelaksanaan pembangunan budaya membaca. Hal itu dilakukannya supaya membaca dapat menjadi karakter bangsa. Negara harus berupaya untuk dapat segera menjadikan pembangunan budaya membaca menjadi prioritas pembangunan dan kemudian diimplentasikan secara massif dan simultan sehinga terinstitusionalisasi dan bahkan terinternalisasi dalam diri seluruh warga masyarakat.



[1] Ali Shariati. Tugas Cendekiawan Muslim. Jakarta: CV Rajawali, 1987, hal. 192

[2] Ali Syar’ati. Ideologi Kaum Intelektual. Bandung, Mizan, 1989

[3] Igans Kleden. “Kebudayaan dan Antisipasi”. dalam Kompas, 28 November 2013

[4] Indra Tranggono “Bangsa Miskin Legenda” dalam Kompas, 23 April 2013

 

 
E-mail

KECERDASAN LITERASI :

Sebuah Gagasan Awal

Oleh:

Suherman

Di zaman informasi seperti saat ini, hal yang sulit bukanlah mencari informasi, akan tetapi memilih dan mengolahnya sengingga menjadi informasi yang bernilai. Jangan terlalu bangga dengan kuantitas informasi yang dimiliki, bisa jadi itu akan tidak berarti apa-apa atau disfungsional. Dalam skala organisasi, sekarang ini banyak perpustakaan beralih menjadi museum buku dan lembaga repositori menjadi museum informasi. Hal tersebut terjadi karena informasi yang dimiliki tidak termanfaatkan sehingga menjadi idle information. Lebih baik memiliki informasi yang tidak banyak tapi berharga daripada memiliki jutaan informasi tapi tidak berharga. Bukankah lebih baik memiliki segenggam berlian daripada sekarung pasir? Idealnya memang memiliki informasi banyak dan berharga semuanya.

Menguasai informasi merupakan syarat utama untuk menjadi manusia yang berpengetahuan. Akan tetapi banyak informasi belum tentu juga bisa mengakselerasi pemahaman. Bayangkan!, pada tahun 2012 jumlah data dan informasi yang dihasilkan dan direplikasi diperkirakan mencapai lebih dari 2,8 zetabita atau sekitar 2,8 triliun gigabita. Tingkat pertumbuhan data mencapai sembilan kali lipat dalam waktu lima tahun. Angka ini diperkirakan terus meningkat hingga 50 kali lipat pada tahun 2020 (Livikacansera, 2016)

Kita tidak harus mengetahui semua hal tentang sesuatu agar memahaminya. Terkadang terlalu banyak fakta seringkali sama-sama menghambat pemahaman seperti juga terlalu sedikit fakta. Bahkan ada kesan bahwa terlalu dibanjiri oleh informasi sehingga menghancurkan pemahaman. Adler (2011) mengatakan yang dimaksud dengan belajar adalah memahami lebih banyak, bukan mengingat lebih banyak informasi yang tingkat keterpahamannya (intelligibility) sama dengan informasi lain yang sudah Anda miliki. Montaigne berbicara tentang “an abecedarian agnorance that precedes knowledge, and another doctoral ignorance that comes after it.” Yang pertama adalah ketidaktahuan orang-orang yang sama sekali tidak bisa membaca karena buta huruf. Yang kedua adalah ketidaktahuan orang-orang yang banyak membaca buku denga cara yang salah. Mereka, seperti dikatakan Paus Alexander, adalah orang-orang pandir yang banyak membaca buku akan tetapi dengan cara yang bodoh.

Sekarang ini banyak pusat repositori yang terobsesi untuk membangun data yang besar (big data). Tentu saja itu adalah hal yang baik dan positif sepanjang fungsional. Akan tetapi harus dipertimbangkan juga apakah dengan adanya google dan mesin pencari (search engine) lainnya big data yang ada di sebuah lembaga repositori masih diperlukan. Mengapa tidak memanfaatkan fasilitas yang sudah ada saja. Apabila masalah privasi dan eklusivitas masih menjadi pertimbangan, justru akan bertentangan dengan demokratisasi informasi yang apabila dinegasikan akan merugikan diri sendiri.

Supaya tidak terjebak kepada kesia-siaan maka diperlukan keterampilan memilih informasi dan mengelolanya menjadi informasi yang berharaga, yang saya sebut dengan kecerdasan literasi. Bayangkan, setiap hari milyaran informasi diproduksi baik oleh perorangan maupun lembaga, sehingga kita bagaikan berenang di lautan informasi dan mungkin juga menjadi tenggelam di dalamnya. Tanpa kecerdasan informasi alih-alih kita akan mendapat kemudahan malah mungkin akan terlibas dan tertelan gelombang informasi. Kecerdasan literasi ibarat papan selancar yang akan membawa kita mengarungi irama gelombang dari lautan informasi.

Kecerdasan informasi mutlak diperlukan terutama oleh lembaga repositori supaya koleksi informasi yang tersedia dapat disintesiskan, disajikan, dan didesiminasikan menjadi informasi yang aktual dan bernilai. Lebih jauh, dengan kecerdasan informasi, lembaga repositori menjadi lembaga yang antisipatif terhadap perkembangan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan muncul dan menjadi trend di masa yang akan datang.

Empat Pilar

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu seorang futurolog Alvin Toffler mengatakan bahwa sekarang ini adalah dekade gelombang ketiga yaitu gelombang informasi. Pada era ini kegiatan ekonomi akan berbasis kepada pengetahuan atau knowledge based economy, di mana informasi akan menjadi komoditas yang sangat menentukan. President of Microsoft Amerika Latin Herman Rincon bahkan menyamakan data sebagai mata uang baru. Masih menurut Rincon, sekitar 90 persen dari seluruh data yang ada saat ini tercipta hanya dalam waktu dua tahun terakhir. Dari aspek bisnis, nilai pasar global big data diprediksi mencapai 53,4 miliar dolar AS pada tahun 2017.

Seharusnya lembaga yang akan berperan dan tentu saja yang disangka akan mendapat banyak keuntungan adalah perpustakaan dan lembaga repositori. Karena lembag-lembaga inilah yang mengakumulasi pengetahuan dan informasi. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Lembaga-lembaga tersebut tetaplah seperti business as usual, malah semakin hari lembaga ini semakin tergerus peran dan posisinya, bahkan sudah banyak yang mati atau bubar. Hal ini terjadi karena lembaga-lembaga pengetahuan ini hanya mengkoleksi sumber informasi dan pengetahuan bukan mengolohnya menjadi informasi baru yang bernilai. Kebanyakan lembaga repositori yang ada sekarang ini ibarat pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam jenis informasi. Dan dengan pasif menunggu pembeli yang datang. Dalam prosesnya, sebagian besar lembaga ini hanya membuat klasifikasi sumber informasi berdasarkan kepada jenis informasi bukan berdasarkan kepada nilai informasinya.

Secara teknis Yanuar Nugroho dan Luis Crouch (2016) memberikan formulasi supaya data dan informasi menjadi fungsional atau berharaga: pertama, gunakan lebih banyak disaggregeted data (data yang dapat dipilah-pilah). Kedua, fokus pada input yang membuahkan hasil kahir positif, berdasarkan bukti, data, ataupun penelitian. Ketiga, mendorong inovasi dan kolaborasi antar berbagai sektor. Keempat, memastikan bahwa masyarakat sipil serta pemerintah pusat dan daerah menggunakan data untuk mengambil keputusan. Empat langkah terknis formulasi tersebut bisa dilakukan apabila dibarengi dengan kecerdasasn literasi yang memadai.

Untuk meraih kecerdasan literasi minimal diperlukan empat pilar utama yang sangat fundamental: pertama, tradisi membaca. Kecerdasan literasi akan dimiliki hanya oleh orang-orang yang memiliki tradisi membaca yang baik. Malah, apabila tradisi membaca sudah terpateri atau sudah menjadi karakter dalam diri seseorang dengan sendirinya pasti orang tersebut memiliki kecerdasal literasi. Tentu saja bukan hanya membaca, akan tetapi dengan sistematika dan perencanaan yang baik. Memiliki banyak informasi kalau tidak fungsional atau tidak saling berkorelasi tidak akan menghasilkan output yang bernilai. Tradisi membaca adalah pilar utama untuk memperoleh kecerdasaran literasi. Jangan bermimpi memiliki kecerdasar literasi tanpa memiliki tradisi membaca yang baik.

Kedua, manajemen pikiran. “Anda adalah apa yang anda pikirkan” kata Carnegie. Artinya pikiran adalah akar dari perilaku manusia. Tindakan atau prilaku seseorang tidak mungkin keluar dari bingkai pikirannya. Oleh karena itu, untuk membangun karakter langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitas pikiran. Dan kualitas pikiran sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang masuk ke dalam benak yang kemudian diproses menjadi ide atau gagasan.

Input informasi yang salah otomatis akan mengeluarkan output yang berupa ucapan atau perbuatan yang juga salah. Perilaku seseorang tidak akan keluar dari perintah pikiran, walaupun informasi yang membentuk pikiran kita adalah informasi yang salah. Tidak jarang konflik terjadi karena misinformasi atau mendapatkan informasi yang keliru (hoax) melalui intrik atau isu yang kebenarannya tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Oleh karena itu, biasakanlah diri untuk mengetahui sesuatu sebagaimana ia adanya, secara akurat, dan objektif yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan secara benar, kecuali jika mempunyai pengetahuan yang benar tentang sesuatu tersebut.

Selain mempunya daya serap yang selektif terhadap informasi, juga harus memiliki kemampuan berpikir secara meluas dengan informasi yang general dan mendalam dengan informasi yang bersifa spesialis. Yang pertama lebih berorientasi pada keluasan cakupannya, sedangkan yang kedua lebih berorientasi pada kedalamannya. Yang pertama berorientasi pada pembentukan wawasan, sedangkan yang kedua lebih berorientasi pada penguasaan detil. Yang pertama memberi efek integralitas, yang kedua memberi efek ketepatan. Idealnya seorang pekerja informasi atau pustakawan memiliki kemahiran dalam menggabungkan kedua metode berpikir tersebut supaya memiliki informasi yang komprehensif, bersifat lintas disiplin, dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu bidang ilmu sebagai spesialisasinya.

Ketiga, metode analisis informasi. Metode analisis informasi ada dua jenis: kualitatif dengan teknik interpretasi misalnya analisis wacana dan analisis framing, sedangkan metode yang kuantitatif biasanya memakai analisis isi. Metode kualitatif memerlukan keluasan pengetahuan atau referensi (frame of reference) serta kekayaan pengalaaman (field of experience). Sementara metode kuantitatif memerlukan ketepatan perhitungan yang biasanya menggunakan statistik. Tentu saja untuk mendapatakan hasil analisis yang integral perlu memakai pendekatan kedua metode tesebut.

Analisis informasi diperlukan untuk mendaptkan informasi yang lebih mendekati kebenaran dan ketepatan. Karena antara teks dan konteks selalu ada mediasi yang terkadang bisa membuat bias. Kata Barthes (2000) teks terdiri bukan hanya barisan kata-kata yang melepaskan pesan dari pengarangnya, tetapi suatu ruang multidimensi di mana telah dikawinkan dan dipertentangkan beberapa tulisan, tidak ada yang asli darinya. Teks adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya.

Selain harus memperhatikan pengarangnnya, dalam membaca sebuah karya, Jean Paul Sartre (2000) mengingakan pada kita bahwa teks tidak bisa lepas dari konteksnya. Suatu karya adalah anak kandung zaman. Sebuah buku punya kebenaran mutlak dalam zamannya. Buku muncul dari inter-subjektivitas, ikatan hidup nafsu amarah, kebencian atau cinta antara orang-orang yang menghasilkannya (penulis) dan orang-orang yang menerimanya (pembaca).

Keempat, inovasi. Informasi yang sudah terakumulasi kemudian dipahami dan dicerna secara objektif melalui analisis yang intergral. Informasi yang telah diurai melalui pisau analisis tersebut kemudian dibangun dan diintegrasikan atau menghubngkan bagian-bagian yang terpisah dari peristiwa atau kenyataan menjadi kesatuan yang terkorelasi secara utuh. Maka dari situlah akan melahirkan informasi atau gagasan baru yang merupakan tambahan atas informasi atau pikiran yang semula sudah ada. Itulah inovasi informasi.

Kecerdasan literasi dapat memperlancar dalam pengelolalaan pengetahuan yang pada akhirnya bisa berkontribusi untuk memperlancar pembelajaran organisasi. Pengelolaan pengetahuan adalah perihal bisnis keilmuan. Gagal mengelola pengetahuan akan menjadikan bisnis keilmuan mengalami kebangkrutan substantif. Jika ini terjadi, peradaban sebuah bangsa akan sulit menjauh dari titik nadir. Sebab, menurut Kidwell, Lide, dan Johnsson “mengelola pengetahuan pada prinsipnya adalah mengubah informasi dan aset intelektual ke dalam nilai abadi” (Muzakki, 2016). Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kecerdasan literasi merupakan keniscayaan baik bagi individu maupaun organisasi, terutama institusi informasi.

Dengan waktu yang terbatas tidak mungkin untuk mengikuti atau membaca informasi yang tersedia. Akan tetapi dengan memiliki kecerdasan literasi kita bisa mendapatkan informasi yang mememadai. Dengan kecerdasana literasi pula, dalam konteks organisasi, sebuah perpustakaan atau pusat repositori akan mudah dalam melakukan menajemen informasi. Informasi yang masuk melalui kegiatan akusisi diproses berasarkan nalar yang kritis dan objek kemudan direkonstruksi dan akhirnya melahirkan luaran (output) berupa informasi baru yang inovatif dan bernilai.

Sepertinya hanya dengan kecedasan literasi inilah pusat informasi, perpustakaan, dan lain-lain institusi informasi akan terhindar dari kematiannya digilas oleh kemajuan teknologi informasi yang semakin akseleratif dan massif.

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 5

Balai Pustaka

1. Di Bawah Lindungan
2. Siti Nurbaya

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


The Inspirational Librarian



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module

<marquee> Selamat Datang di Masyarakat Literasi Indonesia </marquee>

Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 73
  • Anggota Terakhir custom writing

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9261944
DSCF8798.jpg

Kalender & Agenda

May 2019
S M T W T F S
28 29 30 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 1

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC